Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dalam satu forum Senandung Al-Qur’an yang mudah-mudahan wasilah forum ini, Allah SWT meridhoi kita semua. Amin Allohumma Amin.

Dalam kesempatan kali ini, al-Haqir Umar Al-Faruq akan menguraikan kelanjutan dari kajian kita yang lalu, yakni terkait dengan pandangan fuqoha tentang هَلْ تَجُوْزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّلْحِيْن   (apakah boleh membaca Al-Qur’an dengan irama atau lagu). Tafsir 1Disini saya menukil dari karyanya Syekh Ali Ash-Shabuni رَحِمَهُ الله تَعَالَى وَنَفَعَنَا بِهِ وَبِعُلُوْمِهِ وَبِكَرَامَتِهِ . آمِيْنَ

Ulama dari Madzahibul Arba’ah (empat mazhab), terkait dengan hal ini terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama, adalah مذهب المالكية والحنابلة (mazhab ulama Maliki dan Hanbali). Kelompok kedua adalah مذهب الحنفية والشافعية   (mazhab ulama Hanafi dan Syafi’i).

Pendapat kelompok pertama adalah كَرَاهَةَ الْقِرَاءَةَ بِالتَّلْحِيْن   (makruh membaca Al-Qur’an dengan lagu). Pendapat ini menukil dari pendapat di kalangan sahabat, diantaranya Anas bin Malik, Sa’id bin Musayyab, Sa’id bin Zubair. Dari kalangan tabi’in, diantaranya Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha’i, Ibnu Sirin.

Tafsir 2Pendapat kelompok yang kedua adalah جَوَازَ الْقِرَاءَةَ بِالتَّلْحِيْن   (boleh membaca Al-Qur’an dengan lagu). Pendapat ini menukil dari pendapat di kalangan sahabat, diantaranya Umar bin Khattab, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud. Dari kalangan mufassirin, diantaranya Abu Ja’far Ath-Thabari, Abu Bakar ibnu Al-‘Arabi. Dan jika diperhatikan dalam tafsir yang lain, seperti pengarang Tafsir Ibnu Katsir, dan lain sebagainya, bahkan disitu bukan hanya memperbolehkan, tetapi mensunnahkan. Seperti dalam kitab Ibnu Katsir:

وَقَدْ قَدِمْنَا فِى أَوَّلِ التَّفْسِيْرِ الْأَحَاديْثَة الدَّالَّة عَلَى اسْتِحْبَابِ التَّرْتِيْلِ وَالتَّحْسِيْنِ الصَّوْتِ فِى الْقِرَاءَةِ كَمَا جَاءَ فِى الْحَدِيْثِ زَيِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ وَلَقَدْ أُوْتِيَ هَذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِرِ آلِ دَاوُدَ … الخ

Intinya, bukan hanya sekedar diperbolehkan tetapi disunnahkan. Demikian dalam kitab-kitab yang lain.

Dalil atau landasan pendapat kelompok yang pertama, adalah hadis yang berbunyi :

إِقْرَؤُوا الْقُرْآنَ بِلُحُوْنِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا وَإِيَّاكُمْ وَلُحُونَ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالفِسْقِ، فَإِنَّهُ يَجِيْءُ مِنْ بَعْدِيْ أَقوَامٌ يُرَجِّعُوْنَ الْقُرْآنَ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ وَالنَّوْحِ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ مَفْتُوْنَةٌ قُلُوْبُهُمْ وَقُلُوْبُ الَّذِيْنَ يُعْجِبُهُمْ شَأْنُهُمْ – حديث رواه الترمذي فى النوادر الأصول عن حذيفة بن اليمان عن رسول الله صلى الله عليه وسلم

Maknanya, bacalah Al-Qur’an itu dengan irama orang Arab dan suaranya.

Artinya, Rasul menganjurkan ketika membaca Al-Qur’an itu, orang manapun kita, Jawa, Madura, Sunda, Padang, dan lain sebagainya, maka tinggalkanlah irama-irama kedaerahan, dialek-dialek kedaerahan, jangan sampai dimasukkan ketika membaca Al-Qur’an. (Nanti kita bahas lebih detil di dalam forum yang lain).

Dan hati-hatilah kalian, jangan sampai meniru-niru lagu-lagu atau irama-irama Ahlul Kitab dan Ahli Fisq (ahli kefasikan). Misalnya, membaca Al-Qur’an menggunakan irama tukang sinden, atau irama yang biasa di tempat karaoke, bar, dan lain sebagainya. Hal tersebut tidak diperkenankan.

Tafsir 3Maka sesungguhnya, kata Rasulullah SAW, akan datang sepeninggalku satu komunitas yang mendendangkan Al-Qur’an dengan dendangan lagu, rintihan serta ekspresi yang tidak wajar. Jadi, mungkin karena ingin dipuji dan lain lain sebagainya, sehingga melagukan Al-Qur’an itu dengan dendangan dan ekspresi yang tidak wajar. Yang mana bacaan-bacaan mereka itu tidak melampaui tenggorokan mereka, cuma di mulut saja. Hati mereka terkena fitnah dan hati orang-orang yang takjub kepada mereka. Singkatnya, komunitas seperti itu dan para fans-nya.

Inilah landasan yang pertama.

Ada juga hadis :

يَتَّخِذُوْنَ الْقُرْآنَ مَزَامِيْرَ يُقَدِّمُوْنَ أَحَدَهُمْ لَيْسَ بِأَقْرَئِهِمْ وَلَا أَفْضَلِهِمْ لِيُغَنِّيَهُمْ غِنَاءً

Ada sekelompok komunitas yang menjadikan Al-Qur’an bagaikan seruling, yakni komunitas yang mendahulukan salah seorang diantara mereka yang bukan termasuk orang pandai bacaan Al-Qur’annya, tentang hukum dan lain sebagainya, dan juga bukan yang paling utama diantara mereka. Mereka hanya mengutamakan agar bisa mendengarkan lagu-lagunya saja. Singkatnya, bukan mengutamakan bacaan tetapi mengutamakan lagu.

Oleh karenanya, di dalam ilmu Naghomul Quran itu, ada satu panduan dari ulama secara global bahwasanya lagu itu tidak boleh mendominasi terhadap bacaan, artinya bacaan tidak boleh dikalahkan oleh lagu, sebaliknya lagu harus tunduk kepada bacaan.

Itu adalah hadis yang dijadikan tendensi (dasar) oleh kelompok yang pertama akan kemakruhan membaca Al-Qur’an dengan (بِالتَّغَنِّي)  lagu atau (بِالتَّلْحِيْن)  irama. Mudah-mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam golongan-golongan ini.

Kelompok yang pertama ini juga memperkuat argumentasinya dengan dalil aqli (logis).

إِنَّ التَّغَنِّيَ وَالتَّطْرِيْبَ يُؤَدِّي إِلَى أَنْ يُزَادَ عَلَى الْقُرْآنِ مَا لَيْسَ مِنْهُ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ يَقْتَضِيْ مَدَّ مَا لَيْسَ بِمَمْدُوْدٍ وَهَمْزَ مَا لَيْسَ بِمَهْمُوْزٍ وَجَعَلَ الْحَرْفَ الْوَاحِدَ حُرُوْفًا كَثِيْرَةً وَهُوَ لاَ يَجُوْزُ هَذَا إِلَى أَنَّ التَّلْحِيْنَ مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يُلْهِيَ النُّفُوْسَ بِنَغَمَاتِ الصَّوْتِ وَيُصَرِّفُهَا عَنِ الْإِعْتِبَارِ وَالتَّدَبُّرِ لِمَعَانِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

Tafsir 4Bahwa sesungguhnya lagu dan asyik yang gembira ketika membaca Al-Qur’an itu menyebabkan adanya penambahan terhadap Al-Qur’an sesuatu yang bukan merupakan bagian dari Al-Qur’an. Dan hal tersebut ketika sudah asyik dengan lagunya itu, artinya bacaanya sudah dikalahkan oleh lagu karena saking asyiknya berlagu itu bisa menyebabkan memanjangkan sesuatu yang harusnya tidak dipanjangkan, memberi tekanan terhadap sesuatu yang seharusnya dilembutkan, menjadikan satu huruf seperti beberapa huruf. Hal itu yang tidak diperbolehkan. Model membaca yang seperti ini bisa melalaikan kepada hati-hati kita, jiwa-jiwa kita dikarenakan suara yang didominasi oleh lagu tanpa memperhatikan hukum bacaan tadi. Dan memalingkan jiwa-jiwa itu dari mengambil pelajaran dan menghayati terhadap makna-makna Al-Qur’an. Itulah dalil aqli dan naqli dari kelompok yang memakruhkan membaca Al-Qur’an dengan (بِالتَّغَنِّي)  lagu atau (بِالتَّلْحِيْن)  irama.

——————–

Berikut videonya:

Iklan